Minggu, 15 Agustus 2021

Keutamaan Salawat Fatih

 اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِالْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ، وَالْـخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ نَاصِرِ الْـحَقِّ ‍ بِالْـحَقِّ، وَالـْهَادِي إِلَى صِرَاطِك َالْمُسْتَقِيْمِ وَعَلى آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيْمِ

“ Yaa Allah limpahkanlah rahmatMu kepada Nabi Muhammad yang telah membukakan sesuatu yang tertutup, yang menjadi penutup para Nabi dan Rasul yang terdahulu, yang membela agama Allah ta’ala sesuai dengan petunjukNya dan yang memberi petunjuk kepada jalan agamaMu. Semoga rahmatMu dilimpahkan kepada keluarganya yaitu rahmat yang sesuai dengan kepangkatan Nabi Muhammad ”.

 

 A. SALAWAT DI ALQURAN

إنَّ اللهَ وملائكته يصلُّونَ على النبيِّ، يا أيّها الذين آمنوا صلُّوا عليه وسلِّموا تسليما (الأحزاب: 56)

“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-MalaikatNya bersalawat untuk Nabi (Muhammad). Wahai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. (QS. Al-Ahzab: 56).

 

B. SALAWAT DI HADITS

عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما أنه سمع رسولَ الله صلى الله عليه وسلم يقول: من صلّى عليَّ صلاةً، صلّى الله عليه بها عشرًا (رواه مسلم).

 

Dari sahabat Abdullah bin Amr bin al-Ash radiyallah anhuma bahwa Ia mendengar Rasulullah  bersabda: “Siapa saja yang bersalawat kepadaku satu kali, maka Allah bersalawat kepadanya sepuluh kali”. (HR. Imam Muslim).

 

عن ابن مسعود رضي الله عنه أنّ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم قال: أولى الناس بي يومَ القيامة أكثرهم عليَّ صلاةً (رواه الترمذي).

 

Dari sahabat Ibnu Mas’ud radiyallah anhu bahwa Rasulullah  bersabda: “Paling utamanya manusia disisiku pada hari Kiamat adalah orang yang paling banyak membaca salawat kepadaku” (HR. Imam Tirmidzi).

Lalu, bagaimana keutamaan Salawat Fatih ? Silakan klik link ini Keutamaan Salawat Fatih.



Sabtu, 14 Agustus 2021

Hari Asyuro 1443 H

 

Alhamdulillah kita telah memasuki tahun 1443 H, dan insyaallah kita akan mendapati hari ke 10 bulan Muharram pada hari Kamis 19 Agustus 2021, jadi malam Asyuro tahun ini jatuh hari Rabu (18 Agustus) malam Kamis. Lantas, apakah perlu kita rayakan? Dan siapa yang kali pertama merayakan?

Dari pertanyaan tersebut akan kita temukan jawabannya, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abdullah bin Abbas radliyallahu anhu beliau berkata: “Tatkala Nabi Muhammad datang ke kota Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi sedang berpuasa di hari Asyuro, lantas beliau bertanya kepada mereka, 'Hari apa yang kalian sedang berpuasa ini?' Mereka menjawab, 'Hari ini adalah hari yang agung, Allah ta’ala menyelamatkan Musa dan kaumnya pada hari ini dan menenggelamkan Fir’aun beserta pasukannya. maka Musa berpuasa pada hari ini sebagai rasa syukur dan kami turut berpuasa. Kemudian Rasulullah bersabda, 'Maka kami dengan Musa lebih berhak dan lebih utama dari pada kalian. Lalu Rasulullah berpuasa dan memerintahkan berpuasa.” HR Bukhari dan Muslim.

Adapun keutamaan puasa ini adalah menghapus dosa setahun yang lalu, sebagaimana hadits riwayat sahabat Abu Qatadah, bahwa Nabi Muhammad ditanya tentang puasa hari Asyuro, lalu beliau bersabda, “Allah ta’ala menghapus dosa setahun yang lalu” (HR. Muslim).

Kemudian, disebutkan dalam kitab “Tanbihul Ghofilin” karya Syekh al-Allamah Nasr bin Muhammad as-Samarqandi pada bab ‘Fadlu Yaumi Asyuro’ ada peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pada hari Asyuro, diantaranya adalah sebagai berikut :

1.    Diciptakannya Langit, Bumi, Laut, Gunung, Lauh dan al-Qolam

2.    Diciptakannya Nabi Adam alaihissalam dan Sayyidah Hawa, serta diterima taubatnya Nabi Adam

3.    Dikeluarkannya Nabi Yunus alaihissalam dari perut ikan paus dan diterimanya taubat umat Nabi Yunus alaihissalam

4.   Dilahirkannya Nabi Ibrahim alaihissalam dan selamatnya Nabi Ibrahim alaihissalam dari api yang membakarnya oleh Raja Namrud.

5.    Dibukanya (dihilangkan) ‘penyakit’ yang mendera Nabi Ayyub alaihissalam

6.    Diampuninya Nabi Dawud alaihissalam

7.    Dilahirkannya Nabi Isa alaihissalam dan diangkatnya Nabi Isa alaihissalam ke langit.

 

Doa Hari Asyuro

Dalam hal berdoa, sebetulnya ada banyak faedah bagi orang yang senantiasa meminta ampun kepada Allah ta’ala, diantaranya yaitu sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abdullah bin Abbas radliyallahu anhu Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang senantiasa beristighfar (meminta ampun kepada Allah), Allah ta’ala menjadikan setiap kesusahan baginya jalan keluar, setiap kegalauan kelapangan, dan dia diberikan rezeki yang tidak dia sangka-sangka” (HR Abu Dawud).

Adapun doa ataupun dzikir pada hari Asyuro menurut penuturan Sayyidi Syekh Ali al-Ajhuri dan Syekh Abu Salim al-Ayyasyi sebagaimana dijelaskan Syekh al-Muhaddits Idris al-Iraqi at-Tijani dalam kitabnya “Ikhtisoru Irsyadil Khos wal Am” hlm. 18: “Barang siapa yang membaca pada hari Asyuro:

حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الوَكِيْلِ نِعْمَ المَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ

Artinya: “Cukuplah Allah ta’ala (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik Maha pelindung dan Maha penolong”. Dibaca sebanyak 70 kali, niscaya Allah ta’ala akan mengampuni orang tersebut dan menjaganya.

Masih menurut Syekh Idris al-Iraqi at-Tijani hlm. 23, beliau menukil doa dan dzikir riwayat Maulana Syekh al-Qutb al-Maktum Sayyidi Ahmad at-Tijani di malam Asyuro sebagai berikut :

1. Membaca Ayat Kursi beserta basmalah sebanyak 360 kali

2. Kemudian, membaca surah Yunus 58 sebanyak 48 kali (dengan posisi duduk tasyahhud seperti shalat)

قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَالِكَ فَلْيَفْرَحُوْا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُوْنَ

3. Lalu, doa seperti ini sebanyak 12 kali

اللهم إِنَّ هَذِه لَيْلَةٌ جَدِيْدَةٌ فِيْ شَهْرٍ جَدِيْدٍ فِيْ عَامٍ جَدِيْدٍ فَأَعْطِنِيْ، اللهم خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا، وَاصْرِفْ عَنِّيْ شَرَّهَا وَشَرَّ مَا فِيْهَا وَشَرَّ فِتْنَتِهَا وَمُحْدَثَاتِهَا وَشَرَّ النَّفْسِ وَالْهَوَى وَالشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

4. Kemudian ditutup dengan bershalawat kepada Nabi Muhammad  

Adapun guru kami Prof. Dr. Radli Genoun al-Idrisi ulama pakar Manuskrip dari kota Rabat Maroko menyebutkan doa hari Asyuro dalam bukunya “Ahzab wa Aurod al-Qutb al-Maktum wa al-Khotm al-Muhammadiy al-Ma’lum” hlm. 116 sebagai berikut dibaca 7 kali :

سُبْحَانَ اللهِ مِلْئَ الْمِيْزَانِ، وَمُنْتَهَى الْعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَا وَزِنَةَ الْعَرْشِ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَى مِنَ اللهِ إِلَّا إِلَيْهِ، سُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ الشَّفْعِ وَالْوَتْرِ وَعَدَدَ كَلِمَاتِهِ التَّامَّاتِ كُلِّهَا، أَسْأَلُكَ السَّلَامَةَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ، وَهُوَ حَسْبِيْ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ، نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النّصِيْرُ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ أَجْمَعِيْنَ

 

Ditulis oleh,

Ahmad Shohibul Muttaqin

Ponpes Darus Salam Songoyudan

Sawahan Mojosari Mojokerto

Minggu, 08 Agustus 2021

Doa Akhir dan Awal Tahun Hijriyah

 

Insyaallah tahun 1442 H., akan berakhir pada tanggal 30 Dzulhijjah bertepatan dengan 9 Agustus 2021 sesuai pengumuman Lembaga Falakiyah PBNU nomor 024/LF-PBNU/VIII/2021. Artinya kita akan memulai awal tahun baru 1443 H, pada hari Selasa 10 Agustus 2021.

Adapun berkenaan doa akhir tahun, dibaca setelah Asar atau menjelang waktu Maghrib adalah sebagai berikut:

 

  اللّهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي هذِهِ السَّنَةِ مَا نَهَيْتَنِي عَنْهُ وَلَمْ أَتُبْ مِنْهُ وَحَلِمْتَ فِيْها عَلَيَّ بِفَضْلِكَ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِيْ وَدَعَوْتَنِيْ إِلَى التَّوْبَةِ مِنْ بَعْدِ جَرَاءَتِيْ عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّي اِسْتَغْفَرْتُكَ فَاغْفِرْلِيْ وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَى وَوَعَدْتَّنِي عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَأَسْئَلُكَ أَنْ تَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِيْ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ.

Adapun berkenaan doa awal tahun riwayat Maulana Syekh Ahmad Tijani sebagaimana dijelaskan Syekh al-Muhaddits Idris al-Iraqi dalam kitabnya “Ikhtisoru Irsyadil Khos wal Am”, dibaca setelah shalat Maghrib adalah sebagai berikut:

ü  Diawali membaca surah Al-Fatihah satu kali

ü  Membaca shalawat Fatih satu kali

ü  Membaca Ayat Kursi 360 kali, lalu berdoa

 

اللهم يا مُحَوِّلَ الأحوال، حَوِّلْ حَالِيْ إلى أحسنِ حَالٍ، بِحَوْلِكَ وقوَّتِكَ يَا كَبِيْرُ يَا مُتَعَال، يَا عزيزُ يا مِفْضَال، وصلى الله على سيدنا محمد وآله وصحبه وسلَّمَ تسليمًا.

Boleh ditambah doa dibawah ini:

 

اللّهُمَّ أَنْتَ الأَبَدِيُّ القَدِيمُ الأَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ العَظِيْمِ وَكَرِيْمِ جُوْدِكَ المُعَوَّلُ، وَهذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ، أَسْأَلُكَ العِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ، وَالعَوْنَ عَلَى هذِهِ النَّفْسِ الأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ، وَالاِشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ.

Doa awal tahun ini dibaca sebanyak 3 kali dalam rangka menyambut tahun baru Hijriyah. Dengan harapan mendapat anugerah dan kemurahan dari Allah ta’ala untuk kita pada tahun baru ke depan serta diamankan dari kejahatan Syetan.

Adapun Prof. Dr. Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki selalu mengamalkan minum susu putih diawal 1 Muharram, hal ini tafa’ulan (berharap) meminta agar sepanjang tahun dijadikan tahun yang putih, tahun yang bersih dan tahun melakukan berbagai kebaikan. Wallahu a’lam bi showab

 

Ditulis oleh,

Ahmad Shohibul Muttaqin

Ponpes Darus Salam Songoyudan

Sabtu, 31 Juli 2021

Shalat Tasbih

Bismillah,

Pada dasarnya tata cara pelaksanaan shalat sunnah tasbih tidak jauh berbeda dengan tata cara pelaksanaan shalat-shalat lainnya, baik syarat maupun rukunnya. Hanya saja di dalam shalat tasbih ada tambahan bacaan kalimat thayibah, yaitu membaca tasbih sebanyak 75 kali pada setiap rekaat.

Syekh Zainuddin al-Malibari dalam Fathul Mu’in ‘Faslun fi sholati nafli’ berkata :

Tata Cara Pelaksanaan

Adapun tata caranya secara ringkas adalah sebagai berikut:

1. Setelah membaca surat Al-Fatihah dan surat lainnya, sebelum ruku’ terlebih dahulu membaca kalimat subhânallâh wal hamdu lillâh wa lâ ilâha illallâhu wallâhu akbar (selanjutnya kalimat ini disebut tasbih) sebanyak 15 kali.

2. Kemudian melakukan ruku’, pada saat ruku’ membaca tasbih  10 kali.

3. Lalu i’tidal, membaca tasbih 10 kali.

4. Kemudian sujud, pada saat sujud yang pertama membaca tasbih 10 kali.

5. Kemudian bangun untuk duduk diantara dua sujud membaca tasbih 10 kali.

6. Kemudian melakukan sujud yang kedua, membaca tasbih 10 kali.

7. Setelah sujud yang kedua tidak langsung berdiri memulai rekaat kedua, tetapi terlebih dahulu duduk untuk membaca tasbih 10 kali.

8. Setelah itu barulah bangun untuk berdiri kembali memulai rekaat kedua.

 

Dengan demikian maka dalam satu rekaat telah membaca tasbih sebanyak 75 kali. Untuk rakaat yang kedua tata cara pelaksanaan shalat dan jumlah bacaan tasbihnya sama dengan rekaat pertama, hanya saja pada rekaat kedua setelah membaca tasyahud sebelum salam, terlebih dahulu membaca tasbih sebanyak 10 kali, baru kemudian membaca salam sebagaimana biasa sebagai penutup shalat.

Referensi Fathul Mu'in versi pdf

 

Shalat Tasbih Pelebur Dosa

Ulama Maroko Sayyidi Syekh Ahsan al-Ba’qili at-Tijani dalam kitabnya Al-Iroah jilid 1 halaman 143 berkata : “Dan biasakanlah melakukan shalat tasbih, karena dapat melebur dosa hingga bersih tanpa tersisa”.

Adapun tata caranya secara ringkas adalah sebagai berikut :

1. Setelah takbirotul ihrom membaca kalimat subhânallâh wal hamdu lillâh wa lâ ilâha illallâhu wallâhu akbar wa la haula wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil adzim” 15 kali, lalu membaca surat Al-Fatihah dan surat al-Ikhlas 10 kali pada setiap rekaat, sebelum ruku’ membaca tasbih 10 kali.

2. Kemudian melakukan ruku’, pada saat ruku’ membaca tasbih  10 kali.

3. Lalu i’tidal, membaca tasbih 10 kali.

4. Kemudian sujud, pada saat sujud yang pertama membaca tasbih 10 kali.

5. Kemudian bangun untuk duduk diantara dua sujud membaca tasbih 10 kali.

6. Kemudian melakukan sujud yang kedua, membaca tasbih 10 kali.

7. Setelah itu barulah bangun untuk berdiri kembali memulai rekaat kedua, sama dengan pelaksanaan pada rekaat pertama. 

Referensi kitab Al-Iroah versi pdf


Selasa, 20 Juli 2021

Mengenang Mbah Yai Abdur Rozaq

 Mbah Yai Abdur Rozaq Imam

KH. Abdur Rozaq bin Mbah Yai Imam Kholil kembali kehadirat Sang Kholiq pada hari Ahad malam Senin 18 Juli 2021, bertepatan hari Tarwiyah tanggal 8 malam tanggal 9 Dzulhijjah 1442 H. Iya, saya mendengar kabar beliau wafat usai melakukan rutinitas Ngaji Rek yang bertempat di Surau Al-Fatih 5 Ughliq Songoyudan Mojokerto. Inna lillah wa Inna ilaihi rojiun.

Beliau -rohimahullah- adalah sosok ulama kharismatik nan sederhana, Istiqomah dalam wirid tarekat Tijaniyah pagi dan sore, bahkan selalu menghabiskan waktunya untuk bersholawat kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa salam seperti Sahabat Nabi Ubay bin Ka'ab -radliyallahuanhu-.

Adapun riwayat dari murid-murid beliau yang bermulazamah beberapa hari sebelum wafatnya, beliau berkata:

1. Hari Rabu kemarin beliau dawuh kepada ikhwan. "Mrene saiki rasah nunggu Jumat Legi, aku mung kari 4 Dino" (kesini sekarang, tidak perlu menunggu hari Jumat Legi, umurku tinggal 4 hari). Setelah dihitung benar benar kurang 4 hari. Kamis, Jumat, Sabtu, Ahad.

2. "Hari Jumat beliau juga dawuh bahwa beliau sudah ditunggu Nyai Abdur Rozaq dan Maulana Syekh Ahmad Tijani".

3. Dulu setelah Mbah Yai Maimoen Zubair wafat, beliau Mbah Yai Abdur Rozaq bin Imam Kholil dawuh : "Maemoen kapundut wulan Dzulhijjah, aku sesuk yo kapundut wulan Dzulhijjah" (Maimun Zubair wafat bulan Dzulhijjah, saya nanti juga wafat bulan Dzulhijjah).

Demikianlah sepenggal kisah nyata yang dapat kita ambil hikmah dari beliau Sang Ulama Robbani. Semoga Allah ta'ala meridloi dan merahmati beliau, serta dikumpulkan dengan rombongan Maulana Syekh Ahmad Tijani. Aamiin

 

Murid beliau,

Ahmad Shohibul Muttaqin


Kamis, 17 Juni 2021

Mengenang Ayahanda


Bapak H. Misbachuddin

Ayahanda H. Misbachuddin  dilahirkan di desa Jungpasir Demak Jawa Tengah pada 8 April 1943, dari pasangan Mbah H. Abdur Rohim dan Hj. Qoidah.

Dalam perjalanan mencari ilmu, beliau ngaji kepada beberapa kyai, diantaranya di pesantren Al-Hidayah Lasem Rembang dibawah asuhan Mbah KH. Ma'shum. Juga mengambil ijazah "Dalail Alquran" dan doa-doa dari KH. Ahmad Basyir Jekulo Kudus Jateng.

Dalam pengabdiannya di masyarakat, beliau menjadi Guru MIN Jungpasir hingga tahun 2003 dan menjadi Guru Madrasah Diniyah "Miftahul Mubtadiin" hingga akhir hayatnya.

Tak berhenti disitu saja, beliau juga berprofesi sebagai petani sawah dan mengajarkan Alquran di TPQ Ar-Rohim yang terletak di depan rumahnya setiap ba'da Maghrib.

Dalam berkeluarga, beliau sukses mendidik putra-putrinya yang berjumlah 6 anak, yaitu:

1. Ahmad Daelami (Cilacap)

2. Istianah

3. Zainatut Taqwiyah

4. Hidayatul Khoiriyah

5. Ahmad Nur Rohim, dan

6. Ahmad Shohibul Muttaqin (Mojokerto).

Pada pagi hari Ahad 13 Juni 2021 bertepatan 2 Dzul Qo'dah 1442 H., Beliau mengembuskan nafas terakhir sekitar pukul 8.25 WIB. Semoga Allah ta'ala meridloi dan mengampuni serta memasukkan beliau ke dalam surgaNya. Aamiin

Lebih kurang 450 orang yang ikut mensholati beliau di Masjid Al-Azhar. Adapun yang bertindak sebagai imam adalah KH. Abdur Rohim, kemudian beliau dimakamkan di Makam Serut desa Jungpasir.

Ditulis oleh,

Ahmad Shohibul Muttaqin



Jumat, 28 Mei 2021

Haul 212 Maulana Syekh Ahmad Tijani


Maulana Syekh Ahmad Tijani

Oleh: Ahmad Shohibul Muttaqin

 

Puji syukur kehadirat Allah ta’ala yang memberikan keistimewaan kepada para Wali, dan menjadikan para Wali sebagai pewaris para Nabi. Salawat serta salam semoga tercurah kepada Baginda Nabi shalallahu alaihi wa sallam yang telah membukakan sesuatu yang tertutup, yang menjadi penutup para Nabi dan Rasul yang terdahulu, yang membela agama Allah ta’ala sesuai dengan petunjuk-Nya dan yang memberi petunjuk kepada jalan agama-Nya. Semoga rahmat-Nya dilimpahkan kepada keluarganya, sahabatnya juga kepada para pembaca yang budiman.

Ahmad Shohibul Muttaqin dalam bukunya “Tarekat Tijaniyah Perspektif Amaliah dan Ilmiah (2017, hlm. 6)” berkata : “Dalam upaya memahami ajaran Tarekat Tijaniyah, sebaiknya para pembaca maupun peneliti memperhatikan Alquran dan Hadits Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, sebab keduanya yang menjadi dasar utama dalam ajaran tarekat ini. Maulana Syekh Ahmad bin Muhammad At-Tijani berkata: “Jika kalian mendengar sesuatu dariku, maka timbanglah dengan neraca syariat, apabila sesuai lakukanlah, namun jika tidak sesuai tinggalkanlah.

Lanjutnya (hlm. 13), Maulana Syekh Ahmad Tijani dilahirkan pada tahun 1150 H. (1737 M.) di Ain Madhi, sebuah desa di Aljazair Afrika Utara. Beliau populer di dunia Islam melalui ajaran tarekat yang dikembangkannya yakni Tarekat Tijaniyah.

 

Keistimewaan Tarekat Tijaniyah

Dalam hal ini, Syekh Abi Ali Hasan bin Muhammad al-Kuhin al-Maghribi dalam kitabnya Thobaqat as-Syadziliyah al-Kubro (hlm. 154), menuturkan: “Sayyid Ahmad Tijani berkata: Semua Tarekat masuk dalam wilayah Tarekat Syadziliyah, kecuali Tarekatku karena berdiri sendiri”. Hal ini disebabkan karena Allah ta’ala memberinya anugrah seperti derajat Imam Syadzili (W. 656 H). Ucapan tersebut merupakan bagian dari rasa syukur beliau (tahaduts bi ni’mat).

Senada dengan hal tersebut, pakar Hadits Syekh Muhammad bin Shidiq al-Ghumari (W. 1354 H) menceritakan dari Gurunya Waliyullah Syekh Ahmad Bouzaid tentang derajat Sayyid Ahmad Tijani, beliau berkata: “Suatu hari, aku pernah berada di Zawiyah Tijaniyah, setelah shalat Isya’ aku melihat Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dengan keadaan terjaga (bukan mimpi) keluar dari Mihrab, kemudian aku berdiri dan menyalami beliau shalallahu alaihi wa sallam, lalu dari belakang muncul Sayyid Ahmad Tijani, aku pun menyalaminya …”, lihat kitab Tarekat Tijaniyah Perspektif Amaliah dan Ilmiah (2017, hlm. 23).

 

Tarekat Tijaniyah, Tarekat Ilmiah

            Prof. Dr. Muhammad Radli Genoun al-Idrisi, pakar manuskrip dari kota Rabat Maroko juga seorang Muqaddam Tarekat Tijaniyah menyebutkan dalam kitabnya “al-Fahras as-Syamil” (hlm. 4) : “Ada 789 buah kitab-kitab Tarekat Tijaniyah yang saya rangkum dalam kitab ini”. Adapun Ahmad Shohibul Muttaqin telah diberi hadiah kitab ini (“al-Fahras as-Syamil”) pada awal tahun 2012, artinya pada tahun 2021 ini tentunya jumlah kitab-kitab Tarekat Tijaniyah bertambah lebih dari 789 kitab.

            Masih menurut Prof. Dr. Radli Genoun, secara global, Ulama yang paling banyak menulis buku tentang Tarekat Tijaniyah adalah Sayyidi Syekh al-Qadli Ahmad Sukairij, kemudian Sayyidi Syekh Mahmud bin Mathmathiyah, lalu pakar Hadits Syekh Muhammad al-Hajjuji.

 

Haul ke 212 Maulana Ahmad Tijani

Maulana Syekh Ahmad Tijani wafat pada hari Kamis, tanggal 17 Syawwal tahun 1230 H. dan dimakamkan di kota Fes Maroko, beliau wafat pada usia 80 tahun. Dengan demikian pada tahun ini 1442 H., yang bertepatan 29 Mei 2021 adalah haul beliau ke 212.

Adapun murid-murid beliau jarang yang memperingati haul beliau, bahkan nyaris tidak ada. Akan tetapi khusus di Indonesia setiap tahun diadakan Idul Khotmi, yaitu hari dilantiknya Maulana Syekh Ahmad Tijani menjadi Wali al-Khotmi oleh Sayyidul Wujud Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam pada 18 Shafar 1214 H. Untuk itulah “al-Qutb al-Maktum” menjadi gelar bagi Maulana Syekh Ahmad Tijani.

Akhirnya, semoga Allah ta’ala meridloinya dan murid-murid beliau radliyallahu anhu. Syekh Ahmad Tijani, Sang guru sejati.

***