Jumat, 28 Mei 2021

Haul 212 Maulana Syekh Ahmad Tijani


Maulana Syekh Ahmad Tijani

Oleh: Ahmad Shohibul Muttaqin

 

Puji syukur kehadirat Allah ta’ala yang memberikan keistimewaan kepada para Wali, dan menjadikan para Wali sebagai pewaris para Nabi. Salawat serta salam semoga tercurah kepada Baginda Nabi shalallahu alaihi wa sallam yang telah membukakan sesuatu yang tertutup, yang menjadi penutup para Nabi dan Rasul yang terdahulu, yang membela agama Allah ta’ala sesuai dengan petunjuk-Nya dan yang memberi petunjuk kepada jalan agama-Nya. Semoga rahmat-Nya dilimpahkan kepada keluarganya, sahabatnya juga kepada para pembaca yang budiman.

Ahmad Shohibul Muttaqin dalam bukunya “Tarekat Tijaniyah Perspektif Amaliah dan Ilmiah (2017, hlm. 6)” berkata : “Dalam upaya memahami ajaran Tarekat Tijaniyah, sebaiknya para pembaca maupun peneliti memperhatikan Alquran dan Hadits Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, sebab keduanya yang menjadi dasar utama dalam ajaran tarekat ini. Maulana Syekh Ahmad bin Muhammad At-Tijani berkata: “Jika kalian mendengar sesuatu dariku, maka timbanglah dengan neraca syariat, apabila sesuai lakukanlah, namun jika tidak sesuai tinggalkanlah.

Lanjutnya (hlm. 13), Maulana Syekh Ahmad Tijani dilahirkan pada tahun 1150 H. (1737 M.) di Ain Madhi, sebuah desa di Aljazair Afrika Utara. Beliau populer di dunia Islam melalui ajaran tarekat yang dikembangkannya yakni Tarekat Tijaniyah.

 

Keistimewaan Tarekat Tijaniyah

Dalam hal ini, Syekh Abi Ali Hasan bin Muhammad al-Kuhin al-Maghribi dalam kitabnya Thobaqat as-Syadziliyah al-Kubro (hlm. 154), menuturkan: “Sayyid Ahmad Tijani berkata: Semua Tarekat masuk dalam wilayah Tarekat Syadziliyah, kecuali Tarekatku karena berdiri sendiri”. Hal ini disebabkan karena Allah ta’ala memberinya anugrah seperti derajat Imam Syadzili (W. 656 H). Ucapan tersebut merupakan bagian dari rasa syukur beliau (tahaduts bi ni’mat).

Senada dengan hal tersebut, pakar Hadits Syekh Muhammad bin Shidiq al-Ghumari (W. 1354 H) menceritakan dari Gurunya Waliyullah Syekh Ahmad Bouzaid tentang derajat Sayyid Ahmad Tijani, beliau berkata: “Suatu hari, aku pernah berada di Zawiyah Tijaniyah, setelah shalat Isya’ aku melihat Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dengan keadaan terjaga (bukan mimpi) keluar dari Mihrab, kemudian aku berdiri dan menyalami beliau shalallahu alaihi wa sallam, lalu dari belakang muncul Sayyid Ahmad Tijani, aku pun menyalaminya …”, lihat kitab Tarekat Tijaniyah Perspektif Amaliah dan Ilmiah (2017, hlm. 23).

 

Tarekat Tijaniyah, Tarekat Ilmiah

            Prof. Dr. Muhammad Radli Genoun al-Idrisi, pakar manuskrip dari kota Rabat Maroko juga seorang Muqaddam Tarekat Tijaniyah menyebutkan dalam kitabnya “al-Fahras as-Syamil” (hlm. 4) : “Ada 789 buah kitab-kitab Tarekat Tijaniyah yang saya rangkum dalam kitab ini”. Adapun Ahmad Shohibul Muttaqin telah diberi hadiah kitab ini (“al-Fahras as-Syamil”) pada awal tahun 2012, artinya pada tahun 2021 ini tentunya jumlah kitab-kitab Tarekat Tijaniyah bertambah lebih dari 789 kitab.

            Masih menurut Prof. Dr. Radli Genoun, secara global, Ulama yang paling banyak menulis buku tentang Tarekat Tijaniyah adalah Sayyidi Syekh al-Qadli Ahmad Sukairij, kemudian Sayyidi Syekh Mahmud bin Mathmathiyah, lalu pakar Hadits Syekh Muhammad al-Hajjuji.

 

Haul ke 212 Maulana Ahmad Tijani

Maulana Syekh Ahmad Tijani wafat pada hari Kamis, tanggal 17 Syawwal tahun 1230 H. dan dimakamkan di kota Fes Maroko, beliau wafat pada usia 80 tahun. Dengan demikian pada tahun ini 1442 H., yang bertepatan 29 Mei 2021 adalah haul beliau ke 212.

Adapun murid-murid beliau jarang yang memperingati haul beliau, bahkan nyaris tidak ada. Akan tetapi khusus di Indonesia setiap tahun diadakan Idul Khotmi, yaitu hari dilantiknya Maulana Syekh Ahmad Tijani menjadi Wali al-Khotmi oleh Sayyidul Wujud Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam pada 18 Shafar 1214 H. Untuk itulah “al-Qutb al-Maktum” menjadi gelar bagi Maulana Syekh Ahmad Tijani.

Akhirnya, semoga Allah ta’ala meridloinya dan murid-murid beliau radliyallahu anhu. Syekh Ahmad Tijani, Sang guru sejati.

***

 

Jumat, 21 Mei 2021

Haul ke 74 Sayyidi Syekh Ahsan al-Ba’qili


 Sayyidi Syekh Ahsan al-Ba’qili

         Sayyidi Syekh Maulana Abu Ali Ahsan al Ba’qili bin Muhammad bin Muhammad bin Umar bin Mas’ud bin Ibrahim bin Abdullah bin Ali dilahirkan  pada awal abad ke-13 H di Desa Ikidhi-Maroko. Nasabnya berujung kepada sayyidina Hasan as-Sibthi bin sayyidina Ali dan sayyidah Fatima az Zahra binti Rasulillah shalallahu alaihi wa sallam.

Sedangkan Ba’qili merupakan nama suku yang berada di daerah selatan Maroko. Di usianya yang masih kecil (8 tahun) ayahnya meninggal dunia, mulai saat itulah saudara-saudaranya yang mencukupi keperluan beliau sehari-hari. Pada usia 14 tahun  telah hafal Al-Quran, yang kemudian melanjutkan menimba ilmu kepada para ulama di berbagai daerah Negara Matahari Terbenam tersebut, diantaranya di Qurawiyin-Fes, Medina Qasr Kabir, Medina Settat dan lainnya.

Pada tahun 1321, beliau memulai mempelajari ilmu Tasawuf, mulanya di bawah bimbingan Syekh Ali Masfayubi, dan kemudian berguru kepada Syekh al Qutb Husen al Ifrani (W. 1328 H) penulis kitab “Tiryaqu al Qulub min Adawai al Ghaflah wa ad Dzunub”, dari sinilah beliau memperoleh ijazah dan legalisasi sebagai Mursyid tarekat Tijaniyah secara mutlak dengan silsilah sanad keemasan yaitu Sayyidi Ahsan Ba’qili dari Syekh al-Qutb Husen al-Ifrani dari al-Qutb Syekh Arobi bin Sayih (W. 1309 H) dari Syekh Ali at-Tamasini (W. 1260 H) dari Sayyidina Maulana Qutbil Aqthab Syekh Ahmad bin Muhammad at-Tijani radliyallahu anhu dari Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam.

Beliau wafat pada 10 Syawwal 1368 H., Jadi hari ini 10 Syawwal 1442 H., bertepatan dengan haul beliau ke 74, semoga Allah ta’ala meridloinya. Aamiin

 Sumber:https://www.nu.or.id/post/read/51984/ziarah-syekh-tarekat-tijaniyah-di-casablanca 

Jumat, 30 April 2021

Keutamaan Shalat Tarawih

 


1. Malam pertama

عن علي بن أبي طالب رضى الله تعالى عنه أنه قال سئل النبى عليه الصلاة والسلام عن فضائل التراويح فى شهر رمضان، فقال يخرج المؤمن من ذنبه فى أول ليلة كيوم ولدته أمه

 

Diriwayatkan dari Sahabat Ali bin Abi Thalib radliyallahu anhu bahwa sesungguhnya Ali berkata : Nabi alaihis sholatu was salamu ditanya tentang keutamaan tarawih di bulan Ramadlan. Maka Nabi menjawab : "Pada malam pertama keluarlah dosa orang mukmin (yang melakukan tarawih) sebagaimana ibunya melahirkannya di dunia.

 

2. Malam ke 2

وفى الليلة الثانية يغفر له ولأبويه إن كان مؤمنين

Pada malam yang ke 2, orang yang sholat tarawih akan diampuni dosanya dan dosa ke-2 orang tuanya jika keduanya mukmin.

 

3. Malam ke 3

وفى الليلة الثالثة ينادي ملك من تحت العرش استأنف العمل غفر الله ما تقدم من ذنبك

Pada malam yang ke 3, Malaikat dibawah Arasy berseru, mulailah melakukan amal kebaikan (shalat tarawih) maka Allah ta’ala akan mengampuni dosamu.

 

4. Malam ke 4

وفى الليلة الرابعة له من الأجر مثل قراءة التورات والانجيل والزبور والفرقان

Pada malam yang ke 4, bagi yang melakukan tarawih dapat pahala sebagaimana pahala orang yang membaca kitab Taurat ,Injil, Zabur dan Alquran.

 

5. Malam ke 5

وفى الليلة الخامسة أعطاه الله تعالى مثل من صلى فى المسجد الحرام و المسجد المدينة والمسجد الاقصى

Pada malam yang ke 5, Allah ta’ala memberikan pahala bagi yang tarawih sebagaimana pahalanya orang yang shalat di Masjid al-Haram, Masjid Nabawi dan Masjid al-Aqsha (Palestina).

 

6. Malam ke 6

وفى الليلة السادسة اعطاه الله تعالى ثواب من طاف بالبيت المعمور ويستغفر له كل حجر ومدر

Pada malam yang ke 6, Allah ta’ala memberikan pahala pada yang bertarawih sebagaimana pahalanya orang yang thawaf di Baitul Ma’mur dan setiap batu dan tanah memintakan ampunan padanya

 

7. Malam ke 7

وفى الليلة السابعة فكأنما ادرك موسى عليه السلام ونصره على فرعون وهامان

Pada malam yang ke 7, yang melakukan tarawih seakan-akan menemui zaman Nabi Musa alaihissalam dan menolongnya dari serangan Fir'aun dan Haman.

 

Dan seterusnya, referensi dari kitab Durrotun Nasihin karya Syekh Utsman bin Hasan al-Khoubawiy.

Senin, 12 April 2021

Ngaji Ramadlan Kitab Arba’in Nawawiyah


 Bismillah,

Alhamdulillah, pada kesempatan Ramadlan 1442 H., Madin “Darus Salam” akan mengadakan Kajian Kitab Arbaîn Nawawiyah karya Imam al-Hafidz Syekh Abu Zakariya Yahya bin Syarof an-Nawawi (W. 676 H.), kajian ini akan dimulai pada 1 Ramadlan hingga 21 Ramadlan.

Kitab Arbaîn Nawawiyah memuat 42 hadits, yang diawali dengan tema setiap amal tergantung niatnya dan diakhiri tema luasnya ampunan Allah ta’ala. Hadits-hadits tersebut  berkaitan dengan pilar-pilar dalam agama Islam baik ushul (pokok) maupun furu’ (cabang), serta hadits-hadits yang berkaitan dengan niat-niat yang baik, zuhud, nasihat, adab, dan lainnya. Diakhir kajian, insyaallah para santri akan diberikan sanad kitab yang muttasil kepada pengarangnya.

Sabtu, 27 Maret 2021

Keistimewaan Bulan Sya’ban

Pembaca yang budiman,

Pada kesempatan kali ini, marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa, yaitu menjalankan segala perintahNya serta menjauhi segala laranganNya. Karena sebaik-baiknya bekal menuju Akhirat adalah takwa.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam  bersabda :

بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْل  الله ...

“Artinya: Islam itu dibangun diatas lima rukun: Bersaksi bahwa tiada sesembahan yang benar kecuali Allah SWT dan bahwa Muhammad adalah Rasul-Nya ... (HR. Bukhori dan Muslim)”.

Setelah kita beriman kepada Allah SWT, selanjutnya kita beriman kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam  itu merupakan pondasi yang utama, karena seluruh pondasi yang lainnya dibangun atas dasar keimanan pada Allah dan Rasul-Nya. Sehingga orang yang tidak beriman kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam tidaklah sah dan batal imannya, meskipun orang tersebut beriman kepada Allah SWT.

Itulah arti penting iman kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam yang merupakan pondasi agama  islam dan amal ibadah lainnya. Karena kita tidak dapat mengetahui tata cara beribadah kecuali dengan meniru dan menjalankan segala amal ibadah yang telah Rasulullah ajarkan. Sehingga, jika kita tidak percaya terhadap Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, maka gugurlah amal kebaikan kita serta dijauhkan dari rahmat Allah SWT. Bahkan mereka yang ingkar kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam  akan ditimpa musibah dan adzab yang amat pedih, sebagaimana termaktub dalam firman Allah SWT:

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat  cobaan atau ditimpa adzab yang pedih” (QS. An-Nur :63).

Oleh karena itu, hendaklah kita senantiasa bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat yang telah diberikanNya, berupa nikmat Iman kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam  serta mengikuti dan mentaati sunah-sunah Beliau.

Pembaca yang budiman,

Dalam bulan Sya’ban (jawa: Ruwah), ada makna dan keistimewaan yang terkandung didalamnya. Tertuang dalam kitab “madza fi sya’ban?” karya Sayyidi Syekh Muhammad bin Alawi al-Maliki: “bahwasannya dinamakan bulan Sya’ban karena pada bulan itu terpancar bercabang-cabang kebaikan yang banyak”.

 Adapun keistimewaannya adalah terjadi sebuah peristiwa yang amat dahsyat pada bulan Sya’ban yaitu:

 1.    Perpindahan Arah Kiblat

Pada bulan ini arah kiblat yang semula menghadap ke Baitul Maqdis (Palestina), berpindah menghadap ke Ka’bah (Makkah).

Dikisahkan dalam Tafsir Ibn Kasir: Ali bin Abi Talhah berkata: Bahwasannya Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam ketika hijrah ke Madinah al-Munawwarah, Allah SWT memerintahkan kepada Rasulullah agar menghadap ke arah Baitul Maqdis, lalu bergembiralah orang-orang Yahudi, kemudian  menghadaplah Rasulullah selama kurun 10 bulan. Dan Rasulullah lebih senang menghadap ke arah Kiblat Nabi Ibrahim Alaihi salam. Disitulah Rasulullah berdoa serta menengadahkan wajahnya keatas langit, kemudian turunlah QS. Al-Baqarah:144

 Artinya: Sungguh Kami (sering)melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke Kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu kearah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya”.

 2.   Laporan Amal Kebaikan

Diceritakan dari sahabat Usamah bin Zaid Radliyallah anhu, bertanya: Ya Rasulallah, saya tidak pernah melihat engkau sering puasa dibulan lain selain bulan Sya’ban ini? Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam menjawab: Diantara bulan Rajab dan Ramadlan kebanyakan orang lupa, dimana bulan ini adalah laporan amal/perbuatan kepada Allah SWT dan aku (Nabi) senang ketika sedang puasa (HR. Nasai).

 3.  Bulan Membaca Salawat kepada Nabi shalallahu alaihi wa sallam

Diantara dari keistimewaan bulan Sya’ban adalah turunnya wahyu untuk membaca shalawat Nabi pada bulan ini, Firman Allah: “Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. (QS. Al-Ahzab:56)

 Maksud dari ayat diatas adalah Allah SWT memberitahu kepada hambaNya, bahwa Allah SWT bershalawat (baca: memberi rahmat) dan para Malaikat kepada Nabi Muhammad SAW maka bershalawatlah kalian kepadanya.

 

Adapun keutamaan membaca shalawat antara lain:

a. Apabila seseorang membaca salawat kepada Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam satu kali, maka Allah SWT akan memberi rahmat sepuluh kali lipat (HR. Imam Ahmad)

b. Di hari Kiamat nanti, orang yang paling utama adalah yang memperbanyak membaca salawat kepadaku (HR. Imam Turmudzi).

c. Dan masih banyak lagi keutamaan membaca shalawat Nabi.

 

Cinta Kepada Rasulullah,  Bukti Keimanan

Cinta kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam merupakan bagian dari cinta kita kepada Allah ta’ala. Sebab, Cinta kepada Allah menuntut konsekuensi mencintai semua yang Allah cinta dan membenci apa yang Allah benci, sehingga mencintai rasulullah shalallahu alaihi wa sallam merupakan bukti keimanan kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Kemudian kecintaan kita haruslah dibarengi rasa ikhlas dalam mempraktekkan ajaran beliau shalallahu alaihi wa sallam yaitu dengan cara menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya, sebab dengan ikhlas ibadah kita dapat menjadi sempurna, itu merupakan tanda keimanan kita kepada Rasulullah, Sebagaimana firman Allah :  

 Katakanlah (Muhammad), “jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. Ali-Imran : 31).

Selanjutnya, setelah kita benar-benar cinta kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam  dan ikhlas mempraktekkan sunah Beliau shalallahu alaihi wa sallam kita dianjurkan dan diharuskan untuk meneladani akhlak Rasulullah dalam setiap amal perbuatan kita, karena tiada panutan yang paling sempurna kecuali Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dalam Alquran dituturkan :

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah”. (QS. Al-Ahzab:21)

 

Pembaca yang budiman,

Pada bulan Sya’ban pula terdapat malam yang agung nan mulia, yaitu malam ke 15 pada bulan Sya’ban (Nisfu Sya’ban), yang mana pada malam tersebut Allah SWT memberi kemuliaan pada hambaNya. Dengan luasnya ampunan kepada hamba yang mau meminta, memberi rahmat, serta mengabulkan doa.

Syekh al-Muhaddits Abdullah bin Muhammad bin Shiddiq al-Ghumari menukil sebuah hadits dalam kitabnya “Husnul Bayan fi Lailati Nisfi min Sya’ban hlm, 13: Dari sahabat Abu Bakar as-Shiddiq Radliyallah anhu dari Nabi shalallahu alaihi wa sallam  bersabda: Allah SWT turun ke langit dunia (rahmatNya) pada malam Nisfu Sya’ban, lalu Dia memberi ampunan kepada siapapun, kecuali seseorang yang menyekutukanNya dan masih bertengkar. (HR. Bazzar dan Baihaqi). Imam al-Mundziri berkata sanadnya la ba’sa bih. Hal senada, Syekh al-Muhaddits Idris bin Muhammad bin Abid al-Iraqi juga menuliskan keistimewaan bulan Sya’ban dalam kitabnya “Ikhtishor Irsyadil Khos wal Am... ” hlm, 51. Adapun malam Nisfu Sya'ban pada tahun ini insyallah jatuh pada hari Ahad 28 Maret 2021.

 

Re post, Keistimewaan Bulan Sya’ban 1442 H.

Demak, 26 Januari 2015

Ahmad Shohibul Muttaqin